Saksi Kejujuran



Kataku katamu kata kita penuh luka
Caci cuci cari maki tak membuat suka
Kalimat dunia satu noda siapa jera
Aku tak suka
Kamu tak sudi
Semua murka
Basa busa basi bisa beracun
Ucapanmu menancap jelas dalam relungku
Kau melepas tawa tapi aku takkan mati
Takkan pernah, sampai kau termakan ucapmu sendiri
Masih ada kartu putih bertinta hitam ditangan kananku
Sampai jumpa di pengadilan esok hari
Tunggu aku kembali!

Bandung, 15 Agustus 2015
(16:54)

Kebakaran



Mak, ikan asin lagi
Kerupuk lagi
Tak tahan baunya !
Api menyalak-nyalak kompor tak dimatikan
Kucing meronta-ronta luar jendela minta makan
Langit-langit rumah batuk-batuk bau kentut
Cicak gagal kawin buntutnya loncat masuk kuali

Emak, adek, bapak makan satu piring
Pintu tersayat-sayat di cakar kucing
Ngeong ngeong ngeong
Emak dua suap
Adek tiga suap
Bapak satu suap
Cicak jantan berahinya panas lagi
Cicak betina diam-diam malu-malu

Mak, dapur kebakaran!
Bapak ngamuk pintu dibanting
Kucing lari pontang-panting
Adek  teriak-teriak persis orang sinting
Sampai gagang pintu hangus terbakar
Cicak lagi kawin mati menggelepar
Emak terkulai beristigfar

Ikan asin kerupuk makanan terakhir
Makin lapar tangis dibuat kenyang
Tak ada lagi hati yang senang
Rumah kayu lenyap jadi abu
Sore sendu dilangit biru



Bandung, 15 Agustus 2015
(11:07)

Kafe Kopi: Mukena Zhafira:  Diikutsertakan dalam  lomba menulis cerpen Unexpected Ramadhan 2015 Karya:  Allin Narron Seperti biasanya, pada malam Nuzulul...

Mawar



Sekuncup mawar terselip dalam lipatan kertas merah jambu
Persis muka meronamu
Ah, sayang
Dirinya lebih senang menatap si mawar ketimbang puisiku
Padahal isinya syahdu
Baris pertama lebah merindu
Melayang duhai melayang
Rindu mengecup mawar ku madu
Sekuncup mawar terselip dalam lipatan kertas merah jambu
Bacalah engkau ku sayang
Puisiku untukmu seorang

14 Juli 2015
(10:44)

Akronim



Pujangga menyulam pualam bak
Untaian mutiara syurgawi
Ilusi cinta fatamorgana adam dan hawa
Semburat syair kelu mendamba
Ikrar keabadian sang raja hati
Hingga nanti
Takkan pernah mati


14 Juli 2015

Dekrit Puiya



Mereka!
Mereka  anggap  aku tak guna!
Tak lebih dari untaian kata pelipur lara
Atau sekedar curahan manusia jatuh cinta
Manusia yang menggeliat berdansa dengan pena
Ketika malam bulan purnama
Katakan !
Katakan pada mereka!
Aku bisa membuat angin bercerita
Gunung bersenandung berirama
Bahkan langit dan lautan bersimfoni dalam nada
Nada anggun dalam gubahanku
Ketika sang surya menenggelamkan diri  kala senja
Aku bersuara
Dalam kata-kata

6 Juli 2015
(16:19)

Ket.
Puiya : Puisi Teraniaya




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda