Kawah Rasa Timbel




“Bahahahaha... baru kali ini ke  kawah putih?” Ucap Ujang Jaenudin pada Ai Susanti.  Dia  tertawa ngakak mendapati fakta ke 21 tentang Ai atau lebih tepatnya seperti aib baginya. Memang demikian adanya Ai belum pernah ke Kawah Putih. Makanya, ketika rombongan anak-anak Paud hendak berwisata ke kawah putih Jubaedah Istrinya Ujang  dan juga aku yang mengajar di sana mengajaknya, dia mengiyakan.

“Ai... Ai... kamu kalah sama anak umur 4 tahun. Mereka sudah keliling banyak tempat, lho. Bulan depan mau ke Istiqlal... hahahah” Begitu aku mendapati fakta ke 20 nya : umur 25 belum pernah menginjakkan kaki di jakarta. Aku langsung mengucap Istiqlal dengan nada tinggi, memastikan kata-kataku menghancurkan gendang telinganya. Ujang dan Istrinya menutup mulut menahan tawa sambil meliriknya. Ini adalah bentuk konspirasi kami  yang terkesan menjijikkan bagi Ai, tapi aku menyukainya. Aku terkekeh.

“Tahu bakal di bully kalian, aku gak bakal ikut deh,” kecewa tapi tak Ai tak menanggapinya serius. Dia membuang muka menatap sekeliling  dengan pepohonan di kanan kiri jalan dan udara yang sejuk.

“Kawah Putih masuk ke Ciwidey?” tanyanya

“Rancabali”

“Ciwidey?”

“Kecamatan Rancabali, Neng” sergah Ujang

“Beda?”

“Beda kecamatan”

“Wah masa...”

“Katanya, gitu”

“Ekspresi yang tak meyakinkan” celetuknya, “benarkan Jubi” rangkulnya pada Jubaedah, begitu dia memanggilnya agar terdengar kekinian. 

“Ingat waktu pacaran sama Neng Jubaedah” mata Ujang berbinar-binar. Aku dan Ai cengo menatapnya.

“ckckck...” Aku merasa geli.

Kami sampai di lokasi dengan menggunakan ontang-anting, sebutan untuk alat angkutan menuju lokasi kawah putih. Bentuknya seperti mobil pengangkut sayuran bak terbuka yang di permak dengan tiga baris kursi berderet menghadap ke depan.

“Dari sini bagus ya spot nya” Ai tertegun mengagumi keindahan bawah danau kawah dari atas anak tangga.

“Apalagi kalau sudah di bawah Neng” sanggahku.

Ai girang karena baru kali ini sampai di kawah putih yang biasa dia  lihat di tv. Dia tak sabar.

“Ki, nanti fotoin aku di bawah ya,” Dia berlari-lari kecil.

“Lain kali ku ajak kau ke tempat lain, rumah tak cukup membuatmu lebih bahagia ketika melihat dunia” Ucapku membuatnya membalikkan badan sambil tersenyum.

“Kita kemana?” tanya Ai penasaran.

“Pelaminan,” ucapku pelan.

“Apa?” melihat ekspresinya seperti dia benar-benar tak mendengarnya.

Aku pura-pura batuk berjalan meninggalkannya.

“Sok atuh Neng Ai, foto-foto” Ujang kembali dari danau kawah menggendong anaknya dan mengajak kami melihat-lihat sekitar. Anaknya menunjuk uap yang menyeruak dari dasar danau. Dia kemudian berlari-lari di atas pasir putih dan bermain dengan ranting-ranting pepohonan. 

Bau belerang memaksa ku mengenakan masker dan memberikannya satu pada Ai. Dia gadis dusun yang pemalu dan polos. Di era modern tak ku kira masih ada gadis seperti dia. Meskipun dia dan aku kuliah di salah satu universitas yang sama, dia sama sekali tak pernah berubah sejak SD. Kehidupannya ketika kuliah hanya perpustakaan dan mesjid. Mungkin karena kesibukan itulah dia tak sempat hanya sekedar berwisata atau mencari kekasih. Ntah perasaan apa yang menggelayuti pikiranku. Jika aku mengungkapkannya, aku tak jamin jawabannya akan sesuai keinginanku. Sulit untuk di tebak.

Puas dengan mengelilingi sekitar kawah. Kami keluar menuju suatu tempat untuk makan bersama. Ai
mengeluarkan nasi timbel dan membuka lalapan, timun dan seladah beserta sambal terasi. Tak banyak bekal yang dia bawa, hanya tempe, tahu dan juga ikan mas yang di goreng kering.

“Nah, Ki, ini pesenan mu” Dia membagi timbel beserta lauk pauknya untukku. Beginilah persahabatan kami, sesederhana ini. Alih-alih aku malas membawa bekal bagiku itu karena  pekerjaan wanita saja.

Kami makan bersama di bawah pohon yang agak jauh dari lokasi wisata dan ini adalah kebiasaan ibu-ibu paud di daerah ku: makan bersama di tempat wisata.

“ngomong-ngomong kalian cocok juga ya,” celetuk Jubaedah di tengah-tengah keheningan.
Aku hampir tersedak dan berusaha tetap tenang. Sembari menatap sekilas wajah Ai yang merah merona, satu suapan besar masuk ke dalam mulutku dan menambahkan satu tegukan air putih untuk melepas salah tingkah. Jantungku kembali tenang, Melegakan.


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda