Air mata bujangga cinta



Seratus halaman yang ku baca
Satu makna yang ku pijat dalam kening
Itu nama tidak lepas dari air mata

Tak bara ku lihat ke samping
                                                Api depan
                                                Air belakang
Ingin singgah dimana ku tulis halaman terakhir
Kering tinta siapa sanggup baca
Emosi sesaat yang hanya mampir
Bisakah ku lupa itu makna
             Kembali ku kerutkan kening
             Nama itu masih merata
             Masih ada bara tak mampu ku berpaling
                                           Api depan
                                           Air belakang
Tertulis derita dan cap-an kata
Tanda akhir sebuah realita
Dalam suratan takdir yang tak terbaca
Pada seorang bujangga cinta

1 Desember 2005

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda